Pertanian pengendalian hama secara biologis. Sementara itu, dari penggunaan

Pertanian
merupakan salah satu sektor industri terbesar sebagai penunjang perekonomian
masyarakat. Selain tanaman pangan, produksi tanaman hortikultura juga mengalami
peningkatan setiap tahunnya, terutama pada tanaman cabai. Pada tahun 2014,
Kabupaten Blitar merupakan penyumbang produksi tanaman cabai terbesar peringkat
pertama yang mencapai 34.520 ton atau 14,46% dari total produksi cabai rawit di
Jawa Timur yaitu sebesar 238.820 ton (Indarti, 2015). Keberhasilan tersebut
tidak terlepas dari penggunaan pestisida dalam mengendalikan serangan hama dan
penyakit pada tanaman cabai. Bahkan, saat ini penggunaan pestisida terus
meningkat, karena petani lebih mengandalkan pengendalian hama secara kimiawi
yang di anggap lebih efektif dibandingkan dengan pengendalian hama secara
biologis. Sementara itu, dari penggunaan pestisida hanya 20% saja yang dapat
mengenai target hama sasaran, sedangkan 80% lainnya jatuh ke tanah dan terakumulasi
di dalam tanah (Sa’id dalam Nurdin, 2011). Sehingga, akibat dari penggunaan
pestisida harus tetap diperhatikan, khususnya pada dampak yang akan
mempengaruhi kondisi kualitas tanah.

            Pestisida dengan bahan aktif yang
sangat toksik dan sulit terdegradasi, apabila digunakan secara terus menerus
baik dengan sengaja maupun tidak sengaja akan berdampak negatif pada
lingkungan. Dampak negatif yang dihasilkan dari residu pestisida dalam tanah
dapat mempengaruhi kualitas tanah, seperti berkurangnya kesuburan tanah,
hilangnya keanekaragaman hayati tanah dan pencemaran lingkungan. Secara alami,
pada lahan pertanian yang tercemar pestisida terdapat populasi mikroba tertentu
yang mampu menyesuaikan diri dan dapat bertahan hidup pada tanah melalui
adaptasi terhadap kontaminan. Salah satu mikroba yang mampu beradaptasi
terhadap lingkungan yang tercemar yaitu bakteri. Bakteri dapat bertahan hidup
dengan cara memecah atau mendegradasi senyawa pencemar menjadi bahan yang
kurang beracun atau bahkan tidak beracun (Warauw, 2008).

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

            Degradasi merupakan
salah satu aktifitas bakteri untuk bertahan hidup atau toleran terhadap
pencemaran pestisida. Sejumlah mikroba asli (Indigenous) tanah dapat merespon cemaran pestisida sebagai sumber
karbon dalam alur metabolismenya. Sehingga, untuk mengenali keragaman alur
metabolisme dan alur degradasi perlu adanya pengenalan karakter metabolisme
mikroba dan spesifikasi enzim terhadap substrat residu pestisida yang dapat
menjadi racun sebagai upaya menghilangkan cemaran pestisida di tanah pertanian
(Rahmansyah dan Sulistinah, 2009).

            Menurut salah
satu petani cabai di Desa Jabung, Kecamatan Talun yang memiliki lahan seluas ±
250

. Serangan hama sering terjadi pada
tanaman cabai disebabkan oleh kutu daun Myzus
persicae dan penyakit antraknosa atau petek yang disebabkan oleh oleh
cendawan Colletotrichum capsici. Sehingga,
dalam pengendaliannya dilakukan penyemprotan pestisida jenis insektisida dan
fungisida dengan intensitas 2 hari sekali pada saat pembibitan hingga pemanenan
dalam kurun waktu ± 100 hari.

            Berdasarkan hal
tersebut muncul pemikiran, bahwa penggunaan pestisida oleh para petani yang
secara terus menerus dapat menimbulkan ketahanan atau toleransi bakteri tanah
yang sering terpapar oleh pestisida. Sehingga, perlu dilakukan penelitian
mengenai bakteri tanah yang toleran terhadap pestisida yang banyak digunakan
petani cabai di Desa Jabung Kecamatan Talun, melalui isolasi dan karakterisasi
bakteri toleran pestisida dalam rangka mendukung teknologi Bioremidiasi. Selain
itu, hasil dari penelitian ini akan dikembangkan sebagai bahan ajar SMA kelas X
berupa poster pembelajaran biologi pada materi Eubacteria dengan Kompetensi
Dasar (KD) 3.5 Menganalisis struktur dan cara hidup bakteri serta peranannya
dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.

x

Hi!
I'm Neil!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out