BAB data sehingga hanya kita dan orang yang menerima

BAB
I

PENDAHULUAN

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

1.1 Latar Belakang

            Teknologi
informasi terus berkembang dari zaman ke zaman dan setiap informasi akan
dirubah menjadi data. Data yang disimpan akan juga dikirimkan kepada orang
lain. Akan tetapi, seiring dengan perkembangan zaman dan penemuan-penemuan
terbaru, orang dapat mencuri data yang kita simpan maupun yang kita kirim kepada
orang lain. Agar data yang kita simpan atau kita kirim kepada orang tidak dapat
dicuri, kita dapat mengamankan data kita dengan mengenskripsi data sehingga
hanya kita dan orang yang menerima data yang kita kirim yang dapat membuka data
itu. Seiring dengan perkembangan zaman, digunakan kriptografi untuk menyandikan
data. Dalam kriptografi, untuk mentransformasikan data disebut dengan plaintext dan untuk merubah data menjadi
bentuk sandi disebut chipertext.
Dalam menyandikan data, digunakan alogaritma DES dan AES. DES atau Data
Encryption Standard merupakan alogaritma yang digunakan Amerika sejak 1997,  tapi karena kekurangan kunci maka DES diganti
dengan AES. AES atau Advanced Encryption Standard merupakan  alogaritma yang simetris atau alogaritma ini
menggunakan kunci yang sama untuk enkripsi dan dekripsi. Dalam makalah ini,
membahas tentang DES dan AES yang digunakan, perbandingan antara DES dan AES
dan juga diantara kedua alogaritma ini, mana yang lebih baik digunakan untuk
mengamankan data.

 

1.2. Rumusan
Masalah

            Berdasarkan
latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :

            1.
Bagaimana hasil perbandingan antara alogaritma DES dan alogaritma AES ?

1.3 Tujuan

            Dari
rumusan masalah diatas, kita dapat mengetahui mana yang lebih baik digunakan
dalam enskripsi dan deskripsi diantara DES dan AES.

 

 

 

 

 

 

 

BAB
II

LANDASAN
TEORI

2.1 
Penelitian
Terdahulu

·       
Penelitian oleh Aji
Damura Depayusa, Diana, RM Nasrul Halim, 2009 mengenai “Perbandingan Alogaritma
DES dan Alogaritma AES pada Teknologi QR-CODE”. Pada penelitian ini, digunakan
pendekatan dari metode analisis komparatif. Adapun hasil dari penelitian ini di
dapat setelah dilakukan perbandingan ukuran file, waktu encode dan keakuratan
encode. Perbandingan melalui ukuran file jika menggunakan alogaritma DES dan
AES sebesar 59,6 byte. Perbandingan waktu encode menggunakan alogaritma DES dan
AES sebesar 0,0000303s. Dan perbandingan keakuratan encode menggunakan
alogaritma DES dan AES, yaitu pada saat pembacaan QR-Code hasilnya sama dengan
plainteks.

·       
Penelitian oleh I Putu
Agus Eka Darma Udayana dan Nyoman Putra Sastra, 2016 mengenai “Perbandingan
Performansi Pengamanan File Backup LPSE Menggunakan Algoritma DES dan AES”.
Pada penelitian ini, pertama-tama dilakukan analisis kebutuhan, kemudian
dilakukan pengamanan backup file dari LPSE, setelah itu, implementasi sistem
pengamanan dan pengujian sistem. Dalam pengujian sistem terdapat empat jenis
pengujian, yaitu pengujian black box, pengujian waktu enkripsi dan deskripsi,
dan pengujian waktu pengiriman file. Hasil dalam penelitian ini,
performansi  penerapan  kedua 
metode  tersebut,  metode AES lebih  tepat 
diterapkan  karena  membutuhkan 
waktu  enkripsi dan deskripsi file
yang lebih rendah dari  motode DES dengan
selisih  rata-rara waktu enkripsi  sebesar  189,1 
detik  dan 217,7 detik   untuk  
proses   deskripsi.   Hal  
lain   yang   mendukung penerapan algoritma AES dalam
kasus ini adalah file enkripsi yang 
dihasilkan  tidak  jauh 
berbeda  dengan  algoritma DES, sehingga secara tidak langsung
waktu yang dibutuhkan dalam proses backup juga relative sama.

 

 

 

 

 

2.2 
Kajian
Teori Block Chiper

Block
Cipher adalah algoritma enkripsi yang akan membagi – bagi plaintext
yang akan dikirimkan dengan ukuran tertentu (disebut blok) dengan panjang t ,
dan setiap blok di enkripsi dengan
menggunakan kunci yang sama. Pada cipher block, rangkaian
bit – bit plainteks dibagi menjadi blok – blok bit dengan
panjang sama, biasanya 64 bit (bisa juga lebih). Penggunaan enkripsi yang panjang
ini untuk mempersulit penggunaan pola – pola
serangan yang ada untuk membongkar kunci. Enkripsi dilakukan
terhadap blok bit plainteks menggunakan bit – bit kunci yang
ukurannya sama dengan ukuran blok plainteks. Algoritma enkripsi menghasilkan
blok cipherteks yang berukuran sama dengan blok plainteks.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODE PENELITIAN

 

Penelitian ini
menggunakan pendekatan melalui metode analisis komparatif. Analisis komparatif
adalah metode yang membandingkan hasil analisis terhadap dua atau lebih
fenomena sehingga didapatkan hasil berupa kesamaan atau perbedaan fenomena
tersebut.

Menurut
Sugiyono (2013, dalam Ochid) penelitian komparatif merupakan sejenis penelitian
deskriptif yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab-akibat,
dengan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya ataupun munculnya suatu
fenomena tertentu. Pada penelitian ini variabelnya masih mandiri tetapi untuk
sampel yang lebih dari satu atau dalam waktu yang berbeda. Pada penelitian ini
yang dibandingkan adalah kinerja dari algoritma DES dan algoritma AES. Pada
penelitian peneliti membangun dua buah aplikasi yang masing-masing menerapkan
algoritma DES dan algoritma AES.

Adapun jenis
penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif Adalah sebuah penelitian yang memiliki
tujuan menjelaskan kejadian yang ada, baik sedang terjadi ataupun yang sudah
terjadi. Menurut Whitney dalam Moh. Nazir, bahwa metode deskriptif
adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Penelitian deskriptif
mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat, serta tata cara yang berlaku
dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu, termasuk tentang
hubungan-hubungan, kegiatan-kegiatan, sikap-sikap, pandangan-pandangan, serta
proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu
fenomena.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB
IV

HASIL
DAN PEMBAHASAN

 

            Pada
hasil dan pembahasan ini, saya   menunjukan perbandingan antara alogaritma
DES dan AES.

1.     Data
Encryption Standard (DES)

Menurut
standar dari USA Government, yang didukung oleh ANSI dan IETF, untuk metode
secret key, terdiri dari 40-bit, 56-bit dan 3×56-bit (Triple DES) .

DES
memiliki panjang kunci eksternal 64-bit atau 8 karakter dan yang dipakai hanya
56-bit. Panjang kunci yang diusulkan IBM pada rancangan awal adalah 128-bit,
namun karena permintaan NSA panjang kuncinya diperkecil menjadi 56-bit.
Alasannya tidak diumumkan.

DES
memiliki jumlah putaran yang kurang dari 16. Walaupun sebenarnya 8 putaran
sudah cukup untuk membuat chiperteks. Namun, jika kurang dari 16 putaran maka
dapat di pecahkan dengan known-plaintext
attack yang lebih baik dari pada force
attack.

DES
sudah diimplementasikan ke dalam perangkat keras, yaitu di dalam chip. Dan chip ini dapat
mengenskripsikan 16,8 juta blok atau 1 gigabit per detik

 

2.     Advanced
Encryption Standard (AES)

AES
atau algoritma Rijndael menggunakan variabel block chiper, memiliki

ukuran blok sepanjang 128
bit dan juga memiliki ukuran kunci sepanjang 128-bit, 192-bit, atau 256-bit.

     AES dapat bekerja pada matriks yang berukuran 4×4, yang mana
tiap-tiap selnya terdiri atas 1 byte (8-bit) berdasarkan ukuran block yang
tetap.

     Untuk menjadi chiperteks dari AES, dilakukan proses seperti Sub
Bytes, Shift Rows, Mix Columns, dan Add Round Key. Dan itu akan dilakukan
secara berulang-ulang dari ronde kedua hingga ronde kesembilan. Pada ronde
kesepuluh, hanya menggunakan proses Sub bytes, Shift Rows dan Add Round Key,
dalam hal ini Mix Columns tidak digunakan. Hasil yang akan diambil adalah hasil
terakhir dari Add Round Key dan itu yang akan menjadi chiperteks dari AES.

 

 

 

 

 

Berikut adalah gambar
dari Shift Rows :

    

Berikut adalah gambar
dari Mix Columns :

 

 

 

 

BAB
V

SIMPULAN

 

            Dari
perbandingan diatas, maka dapat saya simpulkan bahwa AES merupakan algoritma
yang lebih baik digunakan dibandingkan DES, karena DES memiliki tingkat
keamanan yang belum cukup. Untuk mengubah tingkat keamanan dari DES menggunakan
teknik DES seperti Double DES dan Triple DES yang diulang dan untuk memecahkan
berbagai alogaritma enskripsi blok berbasiskan permutasi dan subtitusi
menggunakan teknik Differential Cryptanalysis.

            Sedangkan
AES, dapat diterapkan untuk smart card . AES juga melakukan tahap atau ronde
yang dilakukan menggunakan kunci simetris. Penggunaan AES pun bukan hanya
digunakan dalam hal yang sederhana melainkan perannya sangatlah krusial dalam
sebuah perangkat lunak ataupun dalam hal lain dimana AES tersebut digunakan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR
PUSTAKA

 

http://eprints.binadarma.ac.id/3280/1/Jurnal%20Aji%2CDiana%2CNasrul.pdf. Diakses pada 9 Desember 2017.

https://ojs.unud.ac.id/index.php/JTE/article/view/20966/14139. Diakses pada 9 Desember 2017

https://id.scribd.com/doc/97613764/Ringkasan-Materi-Block-Cipher. Diakses pada 10 Desember 2017

Moh. Nazir. Ph. D, Metode Penelitian (Jakarta: PT. Ghalia
Indonesia, 2003), Hlm: 16 https://s3.amazonaws.com/academia.edu.documents/31056882/07130097-hendra-kurniawan.pdf?AWSAccessKeyId=AKIAIWOWYYGZ2Y53UL3A&Expires=1513014300&Signature=STEqYDmNl5d7xE%2F1m5levqCI7PU%3D&response-content-disposition=inline%3B%20filename%3DMetodologi_penelitian.pdf.
Diakses pada 11 Desember 2017.

Macam-macam Metode Penelitian


. Diakses pada 11 Desember 2017.

Ochid. Penelitian Komparatif . 20 agustus 2016. http://pgsdberbagi.blogspot.co.id/2014/01/penelitian-komparatif.html.
Diakses pada 11 Desember 2017.

https://saadus.files.wordpress.com/2011/11/des-dan-aes.pdf
. Diakses pada 11 Desember 2017.

 

x

Hi!
I'm Neil!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out