A. memiliki berbagai manfaat yang dapat dijadikan metode oleh

A.

    Latar BelakangUsia dinimerupakan golden age atau periode emas bagi seorang anak. Pada usia 0 sampai 6tahun otak anak mengalami pertumbuhan atau perkembangan yang sangat pesat. Padausia dini merupakan tahap awal bagi perkembangan kemampuan motorik danemosional anak. Dengan kemampuan perkembangan anak saat usia dini maka sangatdiperlukan peran serta orang tua dalam membimbing anak, menggali potensi dalamdiri anak. Maka dari itu usia dini merupakan tahap yang tepat dalam memberikanstimulasi kepada anak.Pada usia diniperkembangan motorik anak semakin baik, sejalan dengan perkembangan kognitifnyayang mulai kreatif dan imajinatif.

Best services for writing your paper according to Trustpilot

Premium Partner
From $18.00 per page
4,8 / 5
4,80
Writers Experience
4,80
Delivery
4,90
Support
4,70
Price
Recommended Service
From $13.90 per page
4,6 / 5
4,70
Writers Experience
4,70
Delivery
4,60
Support
4,60
Price
From $20.00 per page
4,5 / 5
4,80
Writers Experience
4,50
Delivery
4,40
Support
4,10
Price
* All Partners were chosen among 50+ writing services by our Customer Satisfaction Team

Daya imajinatif yang tinggi, membuat anaksemakin suka menemukan hal-hal baru. Anak-anak pada usia dini memiliki karakteryang unik, mereka lebih suka bermain dan bersenang-senang. Maka dari itudibutuhkan metode-metode yang pas untuk merangsang perkembangan anak. Banyakmetode yang dapat dilakukan orang tua untuk menstimulasi kemampuan motorik anakyaitu dengan cara bernyayi, bermain dan bercerita. Metode bercerita ini dapatdisebut juga dengan storytelling. Berdasarkan penelitian-penelitian yang telahdilakukan sebelumnya metode bercerita atau storytelling adalah metodeyang paling banyak digunakan atau dianggap sebagai metode yang paling efektifuntuk menstimulasi kemampuan anak. Setiap metode yang digunakan pastinyamemiliki kelemahan dan kelebihan, dari penelitian yang telah dilakukan storytellingdianggap mampu untuk memberikan nasehat kepada anak tanpa memberikan kesanmemarahi anak, dengan storytelling anak dapat mengambil hikmah dari isi cerita.

Dengan metode storytelling ini anak akan merasa lebih nyaman karenadengan metode storytelling ini para orang tua dapat menasehati anak danmemberikan pelajaran tanpa kesan memarahi.1Michael dalamMuallifah menyatakan storytelling merupakan sebuah metode yang mampuuntuk mengembangkan kemampuan kognitif dan bahasa anak. Selain itu, storytellingjuga memiliki bebrapa manfaat yaitu dengan storytelling dapat menanamkansifat kejujuran, empati, simpati, keramahan, dan ketulusan kepada anak. Storytellingdapat memberikan pengetahuan moral, sosial dan kebudayaan kepada anak. Storytellingjuga dapat mengajarkan rasa sopan santun kepada anak dengan mendengarkan orangbercerita. Storytelling juga dapat meningkatkan kretifitas dan imajinasianak.

2Dari latarbelakang diatas, storytelling merupakan sebuah metode yang dapatmenggali potensi anak dan menumbuhkan kreatifitas bagi anak baik dari aspekkognitif, psikomotor dan pengetahuan moral bagi anak. Storytellingmemiliki berbagai manfaat yang dapat dijadikan metode oleh orang tua maupunguru pengajar dalam mengajarkan anak dan untuk meningkatkan kecerdasan anak.Maka dari itu penulis menarik untuk menulis penelitian dengan judul “STORYTELLINGSEBAGAI METODE PARENTING UNTUK PENGEMBANGAN KECERDASAN ANAK USIA DINI”. semogatulisan ini dapat dimanfaatkan sebagai bahn rujukan dalam mendidik anak bagipara orang tua. B.    TujuanTujuan dari paper ini yaitu untukmengetahui storytelling sebagai metode parenting untukpengembangan kecerdasan anak usia dini, mengetahun manfaat storytellingmelalui metode parenting untuk mengembangkan kecerdasaan anak usia dini.Sehingga dari tujuan tersebut dapat meningkatkan pemahaman orang tua dalamupaya meningkatkan kecerdasan anak.

 C.    Metode PenelitianMetodepenelitian ini menggunalan pendekatan kualitatif. Pendektan penelitiankualitatif yaitu penelitian dengan alat bantu untuk memaparkan dan memahamimakna yang berasal dari individu dan kelompok mengenai masalah sosial atau masalahindividu.3 Dalampenelitian ini melibatkan beberapa orang informan yaitu sebanyak 4 orangdintaranya 2 guru paud yang menggunakan metode storytelling dan 2 orang tuayang sering mendongeng.

Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu denganmelakukan wawancara kepada 2 guru paud dan 2 orang tua. Hasil dari wawancaratersebut kemudian ditarik kesimpulan untuk dianalisa. D.    Pembahasan dan Hasil1.

     Pembahasana.     StorytellingMenurut Echolsdalam Kuntum storytelling terbagi atas dua suku kata yaitu storyyang berarti cerita dan telling berarti penceritaan. Jika digabungkanmaka storytelling merupakan menceritakan sebuah cerita atau penceritaansebuah cerita. Pendapat lain mengatakan storytelling merupakan suatukegiatan yang dilakukan oleh pendongeng untuk menyampaikan isi pikiran atauperasaan secara lisan kepada orang lain. Maka dapat disimpulkan storytellingmerupakan menceritakan sebuah cerita dengan tujuan untuk menyampaikan isifikiran atau perasaan kepada seseorang dalam konteks ini adalah anak-anak.4Storytelling tidak hanyabermanfaat bagi orang tua tetapi juga guru. Loban dalam kuntum mengatakanstorytelling dapat dijadikan motivasi untuk mengembangkan kesadaran danmemperluas imajinasi.

Kegiatan storytelling dapat dilakukan dalamberbagai keadaan baik saat anak-anak sedang bermain, belajar, maupun menjelangtidur. Banyak dari orang tua menggiatkan storytelling kepada anaknyadalam keadaan anak sedang bermain maupun saat mau tidur.MenurutPellowski dalam Rita, storytelling merupakan seni dalam menyampaikancerita, cerita-cerita yang disampaikan disajikan dalam bentuk prosa maupunsyair. Seni ini ditampilkan oleh satu orang yang didengar secara langsung dalamberbagai bentuk, misalnya dalam bentuk diceritakan sambil dinyanyikan,menggunakan musik maupun tidak, menggunakan alat peraga maupun tidak, dan dapatpula disajikan dengan berbagai gaya.

Dengan metode bercerita dapat menyampaikankesan dan pesan kepada pendengar terhadap nilai-nilai yang terkandung dalamcerita. Dalam proses bercerita pemilihan cerita harus disesuaikan terhadappengalaman serta kemampuan pendengar, agar pendengar dapat menerima pesan dannilai-nilai yang terkandung dalam sebuah cerita.5Hal yang perlu diperhatikandalam kegiatan storytelling adalah proses. Pencerita harus mampu mengemascerita yang disampaikan semenarik mungkin.

Storytelling melibatkaninteraksi dua arah antara pencerita dan pendengar, agar komunikasi dapatterjalin maka harus diperhatikan tahapan-tahapan dalam bercerita, terknik yangdigunakan serta memperhatikan siapa saja yang terlibat dalam prosesstorytelling. Hal ini perlu diperhatikan agar kegiatan bercerita dapat berjalandengan lancar dan pendengar mampu menyerap isi kandungan dari cerita yangdisampaikan. b.     Parenting (Pola Asuh)Parenting atau pola asuhsecara bahasa diartikan sebagai kemampuan orang tua dalam mengasuh anak. Shohibdalam Kuntum menyatakan bahwa parenting merupakan cara yang digunakanoleh orang tua untuk mengasuh anak baik secara langsung maupun tidak langsung.Baumrind dalam Kuntum menyatakan bahwa pola asuh atau parental controlmerupakan bagian atau cara dari orang tua dalam mengontrol, membimbing sertamendampingi anak dalam melakukan segala tugas bagi perkembangan dan prosesmenuju pendewasaannya. Sama halnya dengan Kohn dalam kuntum mengatakan bahwa parentingatau pola asuh atau pengasuhan merupakan cara orang tua berinteraksi dengananak yang meliputi pemberian aturan, hadiah, hukuman dan pemberian perhatian,serta tanggapan orangtua terhadap setiap prilaku anak.

Sedangkan Karen dalamKuntum menyatakan bahwa kualitas pola asuh yang baik adalah apabila orangtuamampu mengontrol dan memahami masalah yang sedang dihadapi oleh anak, sehinggaapabila anak memiliki masalah orangtua dapat mengetahui dan memberikanbimbingan kepada anak sesuai dengan masalah yang dihadapi anak.6Dari pendapatmengenai parenting atau pola asuh yang dinyatakan diatas menunjukan  bahwa parenting mencakup beberapapemahaman, diantaranya:1)     Parenting bertujuanuntuk mendorong pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal, baik secarafisik, mental maupun sosial.2)     Parenting merupakansebuah proses interaksi secara terus-menerus antara orang tua dengan anak.3)     Parenting adalah sebuahproses sosialisasi.4)     Parenting sebagai prosesinteraksi dan sosialisasi proses pengasuhan tidak bisa dilepaskan dari sosialbudaya dimana anak dibesarkan.MenurutBaumrind dalam Muallifah, tipe parenting atau pola asuh ada tiga macam,yaitu:1)     Pola asuh authoritarian.2)     Pola asuh authoritative.3)     Pola asuh permisive.

Berdasarkantipe parenting atau pola asuh diatas maka masing-masing dari tipememiliki ciri-ciri yang berbeda. Bentuk pola asuh authoritarian memilikiciri-ciri yaitu sebagai berikut:1)     Orangtua dalam memperlakukan anaknyabersifat tegas.2)     Anak yang dianggap salah akandihukum oleh orangtua.

3)     Kurang memiliki kasih sayang dariorang tua.4)     Mudah menyalahkan segala aktivitasanak terutama ketika anak ingin berlaku kreatif.Pada prilaku authoritarian,orangtua suka memaksakan kehendak kepada anak-anaknya.

Anak-anak dipaksa untukpatuh terhadap aturan-aturan yang sudah ditetapkan oleh orangtua, berusahamembentuk tingkah laku, sikap serta cenderung mengekang keinginan anak-anaknya.Orangtua tidak memberikan apresiasi kepada anak saat mendapat prestasi yangmenurut anak akan dapat membanggakan orangtuanya, anak dituntut untuk besikapdewasa dan membatasi hak-hak anak.Pola authoritativemempunyai ciri-ciri sebagai berikut:71)     Hak dan kewajiban antara anak danorangtua diberikan secara seimbang.2)     Orangtua melibat anak dalammengambil sebuah keputusan yang penting terkait kepentingan keluarga, salingmelengkapi pendapat antara anak dan orangtua.3)     Memiliki tingkat pengendalian tinggidan mengharuskan anak-anaknya bertindak pada tingkat intelektual dan sosialsesuai usia dan kemampuan mereka.

Tetapi mereka tetap memberi kehangatan,bimbingan, dan komunikasi dua arah kepada anak.4)     Memberikan penjelasan dan alasanatas hukuman dan larangan yang diberikan oleh orangtua kepada anak.5)     Mendukung apa yang saja haldilakukan oleh anak, tanpa membatasi segala potensi yang dimilikinya sertakreativitasnya namun tetap membimbing dan mengarahkan anak-anaknya. Sedangkan polaasuh permisive memiliki ciri-ciri sebagai berikut:1)     Orangtua memberikan kebebasan kepadaanaknya.

2)     Anak tidak diajarkan untuk belajarbertanggung jawab.3)     Anak diberikan hak yang sama sepertihalnya orang dewasa, anak diberikan kebebasan yang seluas-luasnya untukmengatur diri sendiri.4)     Orangtua tidak banyak mengatur dantidak banyak mengontrol, sehingga anak tidak diberi kesempatan untuk mandiridan mengatur diri sendiri dan diberikan kewenangan untuk mengontrol dirinya sendiri.Dari penjelasan dari tipe parenting di atas bisa disimpulkanbahwa tipe parenting atau  polaasuh model otoriatatif ini mampu meningkatkan psikososial anak, lebihefektif memberikan kebebasan anak dalam mengekspresikan dan mengaktualisasikanpotensinya dan membuat anak menjadi lebih kreatif. Pendapat inipun didukungoleh sebuah penelitian yang telah dilakukan sebelumnya oleh Enoch Markum bahwapola asuh tipe otoritatif dapat untuk berprestasi dan meningkatkankreatifitas anak. c.      Storytelling sebagai MetodeParenting (Model Parenting Authoritative)Menggunakanmetode storytelling sebagai metode parenting dapat memberikanbanyak manfaat salah satunya yaitu membangun kecerdasan anak. Ada tiga model parentingnamun yang paling efektif untuk digunakan yaitu model parenting authoritative.

Parenting authoritative digunakan dalam storytellingsebagai metode mencerdaskan anak, meningkatkan kecerdasan bahasa anak, membuatanak menjadi lebih kreatif. Selain itu model parenting authoritativeini juga mengajarkan pendidikan moral anak sejak usia dini dan dapat membangunkedekatan antara orang tua dan anak.1)     Storytelling sebagai MetodeMencerdaskan AnakStorytelling dianggap dapatmeningkatkan kecerdasan anak karena melalui cerita orangtua dapat melihatsejauh mana pemahaman yang dapat diambil oleh anak melalui cerita yang telahdibacakan. Tidak hanya bercerita saja, bercerita sambil bernyanyi bernyanyi,bercerita sambil bermain, bercerita sambil bertanya merupakan cara yang pasuntuk mengembangkan kecerdasan anak. Misalnya orang tua bercerita kepada anaktentang sikancil yang cerdik, orang tua dapat bercerita sambil bernanyi dengananaknya saat sang kancil berjalan menuju sungai, orang tua dapat mengajakanaknya bercerita sambil bermain saat sikancil menyeberangi sungai denganmenginjak punggung buaya, dan setelah akhir cerita orangtua dapat bertanyakembali kepada anaknya kenapa sikancil bisa menyeberangi sungai. Dengan metodebercerita seperti ini dapat menumbuhkan kecerdasan anak karena anak dituntununtuk menjawab bertanyaan dari cerita yang telah disampaikan, orangtua jugabisa menyuruh anak untuk menceritakan kembali hal yang dipahami anak daricerita yang telah disampaikan. Maka dari sinilah kecerdasan anak dapat dilihat,sejauh mana mereka mampu memahami cerita yang telah disampaikan oleh orangtua.

2)     Storytelling MeningkatkanKecerdasan Bahasa AnakStorytelling dianggap dapatmeningkatkan kecerdasan bahasa anak. Dianggap dapat meningkatkan kecerdasanbahasa anak karena dalam penyampaian cerita biasanya memiliki banyak bentukkata sehingga saat bercerita akan muncul kata-kata baru yang belum pernah didengar oleh anak sebelumnya. Hal ini akan menimbulkan rasa ingin tau dari dalamdiri anak sehingga anak akan menanyakan apa makna atau maksud dari kata-katayang baru saja didengar oleh mereka, dari pertanyaan ini pencerita dapatmenjelaskan maksud dari kata-kata yang dipertanyakan oleh anak anak. Halsemacam inilah yang dapat memperkaya pengetahuan bahasa bagi anak. Contohnyasaja dalam sebuah kelas seorang guru sedang bercerita kepada muridnya, ketikasedang bercerita sang murid mengacungkan tangan dan bertanya makna dari kata”lembah” karena baru mendengarkan kata itu dari cerita yang dibacakan olehgurunya, maka gurunya menjawab lembah merupakan tanah yang rendah di kiri dankanan di dekat sungai atau gunung. Maka dari pemaparan sang guru maka anakmengerti makna dari kata-kata yang belum mereka ketahui sebelumnya. Dari contohini maka dapat difahami bahwa melalui bercerita akan menambah kosa kata yangbelum diketahui oleh anak, yaitu dapat menambah tingkat kecerdasan bahasa padaanak usia dini.

3)     Storytelling Membuat AnakKreatifStorytelling mampumeningkatkan kreatifitas anak. Dianggap mampu meningkatkan kreatifitas anakkarena dalam proses bercerita anak dapat berimajinasi dan membayangkan hal yangdiceritakan oleh pencerita. Misalkan saja orang tua bercerita kepada anaknyaCinderella keracunan karena memakan apel yang diberikan oleh nenek sihir, orangtua dapat memperlihatkan bagaimana bentung apel dan warna apel kepada sanganak. Maka dari itu anak akan mengetahui apel bentuknya bulat dan berwarnahmerah. Setelah bercerita orangtua bisa menyuruh anak untuk menggambar apel,maka dari situ tingkat kreatif sang anak dapat dilihat.

Maka dari contoh inidapat dikatakan storytelling dapat meningkatkan kreatifitas anak.84)     Storytelling MengajarkanMoral pada Anak Usia Dini Dalam sebuahcerita akan terdapat tokoh protagonis yang dapat dijadikan tokoh panutan.Dengan metode ini orang tua dapat memberikan gambaran bagaimana perilaku orangbaik yang dapat ditiru oleh anak. Misalnya orang tua bercerita kepada anaknyabahwa Bawang Putih adalah seorang anak yang jujur dan patuh kepada keduaorangtuanya, Bawang Putih selalu mengikuti apa perintah ibunya dan tidakmelakukan hal yang dilarang oleh ayahnya, Bawang putih juga seorang anak yangrajin sekolah, belajar dan taat beribadah, Bawang Putih selalu bersyukur kepadatuhan saat diberi pertolongan, karena sikap baiknya Bawang Putih hidupberbahagia. Berbeda dengan Bawang Merah yang jahat, suka menyuruh Bawang Putih,suka berbohong, sering bolos sekolah, dan malas beribadah, oleh karena itubawang merah hidup dalam kesusahan. Melalui cerita ini orang tua dapatmemberikan nilai moral kepada anaknya bahwa hal-hal yang dapat diambil atauditiru oleh anak adalah tokoh baik karena orang baik akan mendapat balasan yangbaik, justru sebaliknya orang jahat akan mendapat balasan yang jahat. Dari contohdiatas dapat dipahami bahwa storytelling dapat mengajarkan nilai moral kepadaanak.

95)     Membangun Attachment (Kelekatan)Antara Orangtua dan Anak Storytellingbukan hanya dapat mengajarkan moral kepada anak tetapi juga dapat membangunkedekatan orangtua dan anak. Karena dengan bercerita maka akan terjalinkomunikasi yang efektif dari orangtua kepada anak. Orangtua dituntut untukmemberikan situasi yang menyenangkan bagi anak sehingga anak dapat bertanyakepada orangtuanya saat ada hal yang tidak dipahami, maka orangtua dituntutmampu menjelaskan secara tenang kepada anak. Contohnya saja saat bercerita anakbertanya kepada orangtuanya kenapa ibu tiri Cinderalla itu jahat, maka orangtuadituntut menjelaskan dengan tenang. Maka dari contoh dapat difahami bahwaorangtua yang mampu menjawab pertanyaan dari anak akan terlatih secaraemosional dari sinilah kedekatan antara orang tua dan anak dapat terjalin.10 2.      HasilHasildari penelitian ini yaitu metode yang paling tepat untuk meningkatkankecerdasan anak pada saat usia dini yaitu metode storytelling sebagaimetode parenting dengan model pola asuh authoritative. Kebanyakan gurupada pendidikan anak usia dini menerapkan metode ini dalam proses belajarmengajar.

Tidak hanya guru orangtua juga banyak menggunakan metode ini,kebanyakan dari orang tua menceritakan sebuah cerita kepada anaknya ketikasebelum tidur. Metode ini dianggap dapat meningkatkan kecerdasan anak. Metodeini juga yang paling digemari oleh anak. Metode ini dianggap tepat karenadengan metode bercerita anak merasa lebih santai karena tidak merasa dimarahi,anak-anak akan lebih mudah mengingat atau merekam cerita daripada gambaransecara langsung.

Selain itu, melalui cerita anak akan lebih faham maksud atauhikmah dari cerita, apa saja hal yang boleh dan yang tidak boleh untukdilakukan. Metode storytelling memiliki banyak manfaat bagi anakdiantaranya, untuk meningkatkan kecerdasan anak, meningkatkan kecerdasan bahasaanak, kreatifitas, penanamkan pendidikan moral, menanamkan sikap simpati bagisesama kepada anak, dan juga metode ini sangat berguna untuk mendekatkanorangtua dengan anak. Selain banyak manfaat dalam storytelling ada halyang harus diperhatikan yaitu pemilihan jenis cerita, cerita yang dibacakankepada anak haruslah yang sesuai dengan kemampuan pemahaman anak. Selain jeniscerita hal yang harus diperhatikan yaitu gaya bahasa, menggunakan bahasa yangsederhana akan membuat anak lebih faham dan mengerti dari makna yang terkandungdalam cerita. E.    Simpulan dan Saran1.     SimpulanSimpulan dari penelitin diatas yaitu untukmembangun kecerdasan anak terutama pada masa golden age dibutuhkan usaha danperjuangan yang maksimal. Untuk dapat meningkatkan kecerdasan anak dibutuhkanmetode-metode, salah satu metode yang banyak digunakan adalah metodestorytelling sebagai metode parenting atau pola asuh yang dapat diterapkankepada anak.

Model parenting pun terbagi lagi menjadi tiga model yaitu pola asuh authoritarian,pola asuh authoritative dan pola asuh permisive. Model yang cocokdigunakan untuk meningkatkan kecerdasan anak yaitu model pola asuhauthoritative. Model ini dipercaya dapat menstimulus kecerdasan anak sejak usiadini. storytelling dengan menggunakan model ini memiliki berbagai macammanfaat bagi anak yaitu mencerdaskan anak, mengajarkan pendidikan moral kepadaanak, selain itu juga bermanfaat untuk meningkatkan kreatifitas anak danmenjalin hubungan yang lebih dekat lagi antara orang tua dan anak. Namun adahal yang perlu diperhatikan dalam menerapkan metode ini yaitu cerita yang akandisampaikan kepada anak haruslah yang sesuai dengan umur dan kemampuan anakdalam mencerna isi dari cerita yang disampaikan.2.     SaranDiharapkanuntuk orang tua dalam proses mendongeng untuk anak harus memperhatikanaspek-aspek bercerita agar cerita yang disampaikan oleh orang tua dapatdipahami dengan mudah oleh anak.

Orang tua harus mampu memilih cerita yangdapat menstimulus anak untuk meningkatkan kecerdasan emosi anak. Cerita yangdipilih haruslah sesuai dengan usia anak, anak pada usia dini tidak mampumencerna cerita yang berat pilihlah cerita dengan gaya bahasa yang sederhana.1 Muallifah. “STORYTELLING SEBAGAIMETODE PARENTING UNTUK PENGEMBANGAN KECERDASAN ANAK USIA DINI.

” JurnalPsikoislamika Vol. 10, No. 1 (2013).

h.99.2 Adhim, F.

2006. Positive Parentingcara-cara Islami Mengembangkan Karakter positif Pada Anak. Bandung: Mizan MediaUtama3 Creswell, John W. Research Design: PendekatanKualitatif, Kuantitatif, Dan Mixed. Ed. 3. Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2010.

h. 352.4 Kuntum Khaira. “MELAHIRKAN GOLDEN GENERATION MELALUIGOLDEN PARENTING.” e-Journal Institut Agama Islam Negeri Batusangkar Vol.

4, No. 1 (2016). h. 294.5 Rita Diyah Ayuni. “PENGARUH STORYTELLING TERHADAPPERILAKU EMPATI ANAK.” Jurnal Psikologi Universitas Diponegoro Vol 12, No.

2(2013).6 Kuntum Khaira. “MELAHIRKAN GOLDEN GENERATION MELALUIGOLDEN PARENTING.

” e-Journal Institut Agama Islam Negeri Batusangkar Vol.4, No. 1 (2016). h.

2967 Muallifah. “STORYTELLING SEBAGAI METODE PARENTINGUNTUK PENGEMBANGAN KECERDASAN ANAK USIA DINI.” Jurnal Psikoislamika Vol.10, No. 1 (2013). h. 1018 Nyoman Radin Amanda, Putu Aditya Antara dan MutiaraMagta.

“HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN REGULASI DIRI ANAK USIA 5-6 TAHUN.”e-Journal Pendidikan Anak Usia Dini Universitas Pendidikan Ganesha Vol. 4,No. 2 (2016).9 M. Arif Khoeruddin, Imam taulabi dan Ali Imron.

“MENUMBUHKAN MINAT BACA SEJAK DINI DI TAMAN BACA MASYARAKAT.”Jurnal LisanAl-Hal Vol. 9, No. 1 (juni 2017). h. 153.

10 Saiful Hadi. “POLA PENGASUHAN ISLAMI DALAM PENDIDIKANKELUARGA.” Jurnal Tadris Vol. 12, No. 1 (Juni 2017).

h. 124.